Terima Kasih Ayah dan Bunda

 Terima Kasih untuk Ayah dan Bunda


Oleh : Salsabila Nadiva Faicha Putri & Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum., sebagai Dosen PBSI FKIP UNS, Ketua Umum ADOBSI, & Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa


Sumber foto : https://images.app.goo.gl/KedXRZeFfLsR99W99


Ayah dan Bunda,


Rasa malu telah lama menghalangiku untuk menyampaikan beberapa kalimat ini. Dan kemudian waktu berlalu, bahkan berlalu, terus berlalu, dan aku menyadari betapa pentingnya memberi tahu ayah dan bunda mengenai hal-hal tertentu.

Sejauh yang kuingat, kenanganku bersama kalian selalu membahagiakan. Bahagia penuh canda dan tawa. Tapi tidak hanya itu, kenangan kita juga penuh kelembutan dan emosi. Suasana kekeluargaan ini begitu menenangkan, begitu menentramkan, telah memberikan warna dalam hidupku.

Dan hari ini aku menyimpan semua kenangan itu dalam ingatanku sebagai momen paling berharga. Aku punya begitu banyak kenangan indah untuk diingatkan pada kalian berdua.

Ketika malam minggu tiba, kami selalu menghabiskan waktu bersama untuk sekedar pergi keluar mencari makan malam. Jalan-jalan di daerah pegunungan di hari minggu keesokan harinya, menikmati hangatnya teh bersama sebelum memulai aktivitas dan menikmati masakan bunda setiap hari. 

Pekerjaan rumah dilakukan di setiap sudut rumah, tertawa santai di malam hari, liburan keluar kota, dan saling bercerita mengenai pengalaman hidup maupun masalah di setiap malam sebagai bahan evaluasi rutin di dalam keluarga kami. 

Disi lain, dorongan untuk studiku dengan selalu mengirimkan dukungan dan menemaniku di segala kondisi baik ketika aku sedang diatas maupun dibawah yang sangat membantuku dalam memasuki transisi kehidupan dewasaku.

Jika aku bisa ada di sini hari ini dan berdiri dengan tegap di hadapan kalian, itu semua adalah berkat dari segala bentuk dukungan kalian selama ini. Atas kemurahan hati, bantuan, kelembutan, kasih sayang maupun cinta ayah dan bunda.

Tatapan kalian yang baik padaku membantuku untuk tumbuh dan berkembang yang selaras dengan kebaikan. Tumbuh sebagaimana mestinya, berakar kuat di dalam masyarakat tetapi dengan kepala terangkat tinggi dan hati merunduk kebawah membawa segala mimpi untuk diwujudkan atas didikan kalian.

Jika aku berhasil, kalian akan memberi selamat kepadaku. Tapi jika aku gagal, kalian akan membantuku untuk terus bangkit dan mencoba kembali. Jika aku kesakitan, kalian akan menemaniku untuk sembuh dan membebaskanku. Jika saya takut, kalian akan meyakinkanku bahwa tidak perlu ada yang ditakuti selagi aku benar. Jika aku sedih, kalian akan menghiburku.

Kalian selalu ada di sana, kalian masih ada dan aku tahu bahwa kalian akan terus berada di sampingku sampai akhir. Jadi, aku ingin mengucapkan terima kasih untuk segalanya yang telah kalian berdua berikan kepadaku, aku tidak akan pernah bisa membalasnya seumur hidupku.

Dan juga aku berjanji bahwa meskipun aku tidak akan pernah bisa memberikanmu sebanyak itu atau mengembalikan seperempat dari apa yang kalian berikan kepadaku, aku akan selalu ada di sana, melawan segala rintangan demi ayah dan bunda.

Kalian adalah tembok pelindung hidupku, tembok kokoh yang terkenal tidak akan roboh atau hancur di setiap kondisi dan tantangan yang menyentuh. Terima kasih atas cinta, kasih saying dan segala dukungan ini. Terima kasih sudah membuatku menjadi anak yang paling bahagia.

Ayah dan bunda, seperti yang kubilang saat kecil, aku mencintaimu “sebesar itu”. Dengan sepenuh hati dan dari lubuk jiwaku yang terdalam. Hingga tak terbatas. Terima kasih kepada ayah dan bunda, aku katakan pada diri sendiri bahwa tidak ada yang mustahil karena aku tidak akan pernah sendiri.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya EYD Edisi V

Esensi Guru di Abad XXI

Bahasa Indonesia dalam Berbagai Konteks dan Fungsi di Kehidupan