Fungsi Bahasa Indonesia dalam Masyarakat

Fungsi Bahasa Indonesia dalam Masyarakat 


Oleh : Salsabila Nadiva Faicha Putri & Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum., sebagai Dosen PBSI FKIP UNS, Ketua Umum ADOBSI, & Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa


Sumber foto : https://images.app.goo.gl/XyyYTHX6tGeaW8HF7


Bahasa Indonesia dalam Masyarakat di Situasi Formal Maupun Non-formal

Mahasiswa senantiasa menjadi teladan berbahasa dalam situasi formal dan nonformal. Fungsi bahasa dalam masyarakat itu menjadi sangat penting karena  bahasa digunakan sebagai alat komunikasi baik dalam situasi formal maupun nonformal, diantara satu penutur dengan penutur yang lain. Berkomunikasi tentu akan menyesuaikan kepada konteks situasinya. 


Kalau kita lihat misal nya smartphone dapat digunakan sebagai alat berkomunikasi dengan orang lain, dan dalam proses komunikasi tersebut maka tentu akan menggunakan bahasa-bahasa yang disesuaikan pada konteks situasinya. Jika situasi formal tentu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun sebaliknya, jika konteks situasi nonformal tentu menggunakan bahasa yang bisa diterima antara penutur dan lawan tutur ini.


Dalam berkomunikasi, pasti akan bersinggungan erat ketika kita berbicara masalah fungsi bahasa dalam masyarakat itu dengan pemanfaatan ide-ide gagasan. Contoh penyampaian sebuah gagasan kepada lawan tutur :

->Dalam masyarakat kita berkomunikasi dengan anak kecil, maka kita akan menyesuaikan dengan kemampuan nalarnya dalam berbahasa. 

Kemudian penguasaan diksinya atau pilihan katanya dan juga konteks pengalamannya. Lebih mudahnya dapat diartikan ketika orang yang lebih tua berbicara kepada yang lebih muda. 


Selanjutnya ketika kita berbicara kepada yang sepadan atau setara umurnya, tentu juga akan memiliki dimensi lain yang harus diperhatikan ketika kita menyampaikan ide gagasan. Contohnya percakapan:

A : "Bisakah saya pinjam bukunya?"

B : "Oh Boleh silakan." 

Lalu datanglah pihak C, dan berkata

C : "Woi lagi apa nih?"

A dan B : "Lagi main."

Jadi dalam situasi dialog atau komunikasi nonformal akan sangat bersinggungan ketika kita bisa memanfaatkan situasi yang memang betul-betul bisa menjadi salah satu bagian yang berdampak dalam dimensi diskusi.

Oleh karena itu tanpa harus kita pikirkan bagaimana kita menggunakan ide dan gagasan yang diungkapkan secara formal ataupun nonformal ini pasti akan menjadi salah satu kontribusi nyata dalam berkomunikasi menggunakan bahasa.


Namun ketika kita berbicara kepada orang yang lebih tua tentu bersinggungan dengan kaitannya status sosial, pendidikan, ekonomi, budaya, agama dan sebagainya sehingga menjadi salah satu pilihan mereka dalam berkomunikasi ketika kita menempatkan diri dalam suatu komunitas di lingkungan.


Mengapa penutur maupun lawan tutur akan memperhatikan satu ragam komunikasi yang digunakan? karena ini sangat dipengaruhi oleh penutur dan lawan tuturnya itu sendiri. Misalnya sebagai penutur tentu akan berpikir siapa lawan tuturnya. Jadi penutur tersebut dapat memposisikan dirinya dan memilih bahasa yang tepat untuk digunakan berkomunikasi. 

Seperti : orang dari Medan, dari Sumatera Barat, dari Papua, dari Kalimantan dan lawan tuturnya dari Sulawesi, dari Sabah, dari Jawa Barat, dari Jawa Tengah, dari Jawa Timur atau dari manapun dari 34 provinsi yang ada di Indonesia tentu akan mempengaruhi konteks pemakaian bahasa dan mereka akan memilih untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa berkomunikasi. 


Konteks pilihan bahasa akan mempengaruhi ragam komunikasinya, apakah menggunakan ragam bahasa formal atau ragam bahasa nonformal, dan disinilah yang sebenarnya akan menjadi salah satu bagian penting yang justru harus kita pilih apakah nanti akan menemukan diksi-diksi yang bercampur dengan ragam bahasa daerah dan itu tentu akan menjadi salah satu bagian alih kode dalam tuturan yang digunakan oleh seorang penutur kepada lawan tuturnya. 


Jika kita memilih kata tentu itu akan kita sinergikan dan sesuaikan dengan konteks pemakaian kata sehingga kalau kita gunakan diksi yang tepat maka juga akan bisa sampai tujuan atau maksud gagasan dari apa yang kita sampaikan itu.  


5 hal yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi : 

1)Siapa penuturnya?

2)Siapa lawan penuturnya?

3)Apa tujuan tuturannya? 

4)Bagaimana situasi tuturnya? 

5)Apa alat atau media tuturnya? 

Ke lima hal tersebut akan sangat saling berkaitan satu sama lain dan akan berpengaruh pada pilihan kata yang digunakan juga partisipasinya.


Ketika kita berbicara di dalam masyarakat dalam situasi formal atau nonformal tentu akan menentukan konteks tuturannya, dan ini akan berdampak ketika kita berbicara masalah bahasa di dalam masyarakat yang bersinggungan dengan kebutuhan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. 


Kenapa penutur dan lawan tutur lalu partisipan akan sangat mempengaruhi tujuan tuturan kita? 

->karena tujuan tuturan kita disampaikan dengan sarana yang berbeda-beda dan akan berdampak pada aspek-aspek yang dimanfaatkan dan digunakan ketika kita berkomunikasi.


Kenapa penggunaan bahasa dalam situasi profesi tertentu dan tujuan tuturannya akan sangat menentukan strategi apa yang kita gunakan? 

->karena kita akan dipengaruhi lawan tutur kita 

Misal : lawan tutur kita adalah atasan kita tentu kita harus mengembangkan strategi tutur yang berbeda dari pengembangan tuturan yang kita sampaikan jika lawan tutur kita adalah setara atau bahkan lebih muda. 


Mengapa tujuan tuturan mempengaruhi strategi?

->berdampak pada media tutur yang digunakan (media lisan, media tulis, media telepon bahkan mungkin media chat)

->berdampak pada tujuan tuturannya

->mempengaruhi penggunaan bahasa (lisan maupun tertulis)

->berdampak pada tingkat kesantunan seseorang terhadap lawan biacaranya


Manfaat : Agar dapat bersinergi dengan kebutuhan dan tercapainya tujuan tuturan kita. Bagaimana kita bisa memanfaatkan tuturan itu dalam berbagai ranah dalam berbagai dimensi yang tentu akan bisa berdampak untuk semua.


Kesantunan tuturan seseorang dapat dilihat dari cara pengimplementasian atau penerapan orang tersebut dalam memakai bahasa. Oleh karena itu fungsi bahasa dalam masyarakat akan sangat bersinggungan dengan fungsi referensial yang bisa kita gunakan dalam konteks tuturan yang tepat. 


Penggunaan bahasa harus disesuaikan dengan konteksnya. Misal dalam  konteks pendidikan, agama, sosial, ekonomi, budaya, politik, hukum dan lainnya itu menjadi salah satu bagian penting untuk memperkaya khasanah pemakaian budaya bahasa kita, sehingga disitulah sebenarnya kekuatan kita untuk bisa bersinergi melihat berbagai peluang bahasa kita di dunia internasional.


Karena semakin banyak tema dan diksi yang digunakan, maka peluang penggunaan bahasa di ranah internasional juga semakin terbuka. Sejak tanggal 28 Oktober 1928 bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan, bahasa negara dan bahasa nasional ini menjadi salah satu pilar penting bagaimana penggunaannya, dan apalagi sekarang sudah ditetapkannya Undang-Undang No. 24 Tahun 2009 tentang pemakaian bahasa Indonesia dalam berbagai situasi formal yang menjadi salah satu penentu situasi penting yang bisa menjadi kekuatan kita sebagai warga negara Indonesia.


Dan dalam menulis kita ada pedoman umum ejaan bahasa Indonesia yang tentu bisa dijadikan sebagai acuan kita dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Agar bahasa Indonesia selalu lestari. Tak lupa mahasiswa juga dijadikan sebagai pelestari bahasa daerah maupun bahasa asing, jadi sebaiknya kita sinergikan bersama-sama dengan memguasai bahasa Indonesia, daerah mapun asing sebagai media untuk berliterasi dan melihat berbagai komponen perbedaan yang ada.


Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan konteksnya. Seperti penggunaan konteks isi dan sebagainya. Oleh karena itu, hal macam inilah yang mengantarkan kita untuk bisa berkomunikasi sebagai salah satu upaya kita untuk mendukung kemajuan dan kejayaan NKRI. Melalui membangun nasionalisme seluruh generasi muda NKRI dengan sarana bahasa Indonesia dan menunjukkan bahwa kita akan selalu mencintai dan membanggakan bahasa Indonesia secara utuh.


Semangat untuk generasi muda dalam membangun keunggulan dan berinteraksi dengan rajin menulis dan membaca. Membaca untuk menulis dan menulis untuk membaca sepanjang Hayat karena disitulah kekuatan kita akan menjadi yang terbaik untuk turut serta membangun kejayaan Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya EYD Edisi V

Esensi Guru di Abad XXI

Bahasa Indonesia dalam Berbagai Konteks dan Fungsi di Kehidupan